Pada 19 Agustus 2026, saham BYAN ditutup merosot 9,41% ke Rp 15.650 meski sempat naik hingga menyentuh Rp18.650 pada sesi pertama.
Setiap emiten memiliki prospek, struktur bisnis, fundamental, serta tingkat sensitivitas yang berbeda-beda terhadap akuisisi BYAN.
AALI mencatat lonjakan laba 56,5% pada semester I-2026. TAPG, LSIP, dan DSNG ikut tumbuh, sementara JARR dan PGUN masih tertekan.
Kinerja Jhonlin Agro Raya (JARR) kurang memuaskan dengan penjualan turun 13,59% dari Rp 2,04 triliun menjadi Rp 1,76 triliun di semester I-2026.